Hembusan
angin pantai yang lembut, deruan ombak yang menenangkan sanubari, dentuman
bunyi kapal yang silih berganti di pelabuhan ini. Pemandangan lalu lintas laut
yang berlatar langit biru yang mempesonakan siapapun yang menatapnya. Pelabuhan
yang tidak pernah sunyi, selalu ada yang hilir dan mudik seperti lalu lintas
padat di perkotaan. Berbagai macam kapal ada di pelabuhan ini mulai dari kapal
yang sederhana sampai kapal mewah. Semuanya terbungkus indah dengan pemandangan
alam yang tidak seorang pun dapat menolaknya. Nahkoda kapal terdengar merayu
para masyarakat domestik untuk pergi berlayar bersamanya dengan berbagai bujuk
rayu. Namun yang aku lihat di sini tidak ada satupun kapal yang berlabuh dalam
waktu yang cukup lama. Aku sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan mereka ingin
segera berlayar ke tujuan mereka selanjutnya. Hanya satu yang terpikir dalam
otakku ‘berarti pelabuhan ini bukanlah pelabuhan tujuan mereka’. Pulau ini
sungguh indah dan mempesonakan hati bagi orang yang tinggal di dalamnya. Namun
semua potensi ini tidak dapat dilihat oleh orang yang tidak punya ketulusan
hati.
Kapal
yang berlayar ke pelabuhan ini bukanlah sembarang kapal, karena sebelum mereka
menemukan pelabuhan ini mereka telah melewati banyak badai di lautan lepas.
Pulau ini memang sunyi dan menawarkan ketenangan dan jauh dari hiruk pikuk
kehidupan masyarakat perkotaan. Mungkin karena jauh dari kehidupan perkotaanlah
yang menyebabkan sampai saat ini tidak ada satupun kapal yang sanggup berlabuh dalam
waktu yang lama di pulau ini. Pulau yang masih asri diwarnai dengan warna –
warni alam yang tidak pernah didapatkan di pulau lain. Ketika aku tenggokkan
kepalaku ke samping ternyata banyak kapal yang mencoba bertahan lama di pulau
ini, berarti asumsiku salah. Akan tetapi, tidak satupun kapal yang mampu
bertahan. Banyak tantangan yang akan mereka hadapi di pulau ini, mulai dari
bencana alam sampai stress pribadi yang akan menghantui mereka. Alasan mereka
tidak dapat bertahan adalah tidak tahannya mereka terhadap bencana alam yang
tidak kunjung usai dan belum adanya kepastian bahwa kehidupan mereka akan
sejahtera di sini.
Ketidakpastianlah
penyebab utama keputusasaan kapal-kapal itu. Padahal jika mereka mau bersabar
mereka akan dapatkan hal yang lebih dari apa yang pernah mereka inginkan selama
ini. Akan tetapi, dari lubuk sanubari aku pun juga tidak akan berdiam diri
untuk selalu menjaga pulau yang elok ini dari para pendatang yang akan merusak.
Bukankah hidup itu selalu berisi ketidakpastiaan kecuali kematian. Seharusnya
mereka berpikir bagaiman cara melestarikan dan dapat hidup di pulau yang indah
ini. Mungkin keegoaanlah yang membuat mereka menyerah. Ketika aku tundukkan
kepalaku mengahadap pasir di pantai ini, aku berpikir hikmah dari kejadian yang
telah aku amati. Semakin banyak kapal yang berlabuh di pelabuhan ini maka
semakin banyak jejak yang ditinggalkan dan itu dapat memperkaya sejarah
pelabuhan ini. Semakin banyak kapal yang meninggalkan pelabuhan berarti hanya
kapal yang terbaik dari yang terbaiklah yang bertahan. Aku akan jaga pulau yang
elok ini dengan sepenuh hati sampai datang sebuah kapal yang mampu berlabuh dan
lulus segala ujian hidup yang ada di pulau ini. Tidak akan pernah pelabuhan ini
sunyi, tetapi ketidakpastian selalu ada sampai saat yang tepat untuk memberikan
suatu kepastian. Aku pun juga tidak tahu sampai kapan status ketidakpastiaan
ini ada. Ombak yang selalu memberikan melodi indah pun juga tidak tahu kapan
waktunya. Biarkan berjalannnya sang surya yang menjawabnya dan biarkan semua
misteri Tuhan ini selalu tersimpan sampai saatnya Tuhan mengizinkan semuanya
terbuka. Karena penantian akan misteri-Nya bukanlah suatu kesia-siaan belaka.
