AKU TERLALU
ABU-ABU
Dirimu
sempurna di mataku, bahkan sangat menyiksaku saat aku mengenangmu. Kau pernah
goreskan tinta putihmu di hatiku, kau lah yang pernah menemani langkah kecilku,
dan kau lah yang menggoreskan cahaya putih itu di pelangi ini. Semakin aku
mengingat itu, semakin aku sedih. Sedih karena hanya bisa menatapmu lewat
etalase hati kecilku. Aku tidak akan rela dikau kehingan sinarmu dan aku tidak
rela menggoreskan luka dijiwamu. Hal yang akan aku lakukan hanya lah menodai
kesucian hatimu jika aku tetap di sisimu. Memang aku mendambakanmu sejak
mendengar buah bibir orang lain tentangmu, tapi aku tidak bisa. Saat aku tahu
siapa sosok dirimu sebenarnya semakin membuatku ragu akan keinginanku sendiri.
Sudah aku coba menghapus goresanmu dengan air hujan yang lebat, tetapi goresan
itu tetap bersemayam di dalam dasar kalbuku.
Senyum
kecil ini selalu menghiasi wajahku saat aku memandangmu dari kejauhan. Tenang
saja aku tidak akan mendekatimu lagi. Karena itu hanya akan menyakiti diriku
sendiri. Ucapanmu padaku akan tetap terkenang selamanya. Meski sederhana tapi
itu terasa indah. Dekat denganmu hanyalah fatamorgana yang hanya menimbulkan
duri di dalam sanubari. Aku lebih rela membuatmu membenciku daripada membuatmu
hancur saat bersamaku. Aku hanyalah mesin penghancur bagimu. Jujur aku
mengagumimu di dalam lubuk hatiku, tapi aku tidak akan membiarkan seorang pun
tahu akan rasaku padamu.
Ketidaktahuanku
padamu membuatku sedikit bernafas lega. Karena semakin kau menjadi hal yang
aneh maka semakin mudah untukku membuka sangkar pelepasanku untukmu. Kau hanya
tahu setitik embun dari diriku tapi kau terlalu ingin tahu danau yang tidak
pernah disinggahi oleh siapapun ini. Bukannya aku tidak menginginkanmu tahu,
tapi aku takut membuatmu hancur pada saat kau telah tahu semuanya. Mungkin di
matamu aku seorang bidadari, tapi bukan aku hanya manusia biasa dan terlalu
hitam untukmu yang sangat putih.
Saat
aku berkaca di sungai yang jernih dan melihatmu di sana juga maka hanya deraian
air mata sebagai jawabannya. Sungguh bawa semua goresanmu pergi dariku bersama
jiwamu. Aku tidak mau lebih tersakiti lagi untuk ke sekian kalinya denganmu.
Akan tetapi, saat hujan mulai datang
memori itu teringat lagi dan lagi. Jangan pernah mintaku untuk jadi
asimtotmu lagi, karena itu sangat menyakitiku. Sejak kepergihanmu aku merasa
ada yang hilang dan aku tidak tahu apa itu.
Kau
adalah mimpiku tapi bukanlah impianku. Terima kasih kau telah meninggalkan
jejak ini padaku dan aku juga tidak pernah berharap bisa sejajar denganmu. Aku
akan jadi garis lurus di kehidupanku sendiri dan kau juga menjadi kurva
parabola di duniamu sendiri. Suatu saat nanti kau akan berpotongan dengan garis
singgung yang pantas buatmu, tetapi yang pasti bukan garis lurus itu. Aku akan
terus berlalu, melihatmu dari sisi lain yang kau tidak akan pernah tahu dimana
aku memandangmu. Karena aku malu saat memprlihatkan wujudku di hadapamu.
Biarkan
aku menjadi lilin kecil di malam yang kelam dan sunyi. Aku bahagia, melihat kau
jadi cahaya terang di tengah pasar apung yang gelap. Bahkan melihat dua buah
cahaya terang di pelupuk mataku. Aku ingin kau tetap terang seperti dulu,
sebelum kehadiranku yang hanya menjadi pengusik bagimu. Semoga kau bahagia
kelak bersama cahaya terang yang lain. Aku hanya akan berusaha untuk menjadi
yang lebih baik dan tanpa berharap lebih dari sosokmu. Hal yang perlu kau tahu
aku sayang padamu dan karena rasa sayang itu aku tidak akan rela seorang pun
melukai bahkan menghancurkanmu. Aku yakin pada saatnya nanti kau akan tersenyum
di samping cahaya lain yang pantas denganmu, bukan warna abu-abu ini. Doaku
selalu ada untukmu, semoga kau tetap bahagia dan membenciku. Karena semakin kau
membenciku maka semakin mudah kau meninggalkan semuanya dan menghapusku dari
hidupmu. Bahagiaku melihatmu membenciku daripada melihatmu hancur di tanganku
sendiri.
Kau
pantas bahagia, sebab kau sangat baik. Aku rela bercucuran air mata saat
melihatmu bahagia daripada aku bercucuran air mata melihatmu hancur di
hadapanku sendiri. Kau adalah mimpi indahku, tapi aku tidak layak menjadikanmu
impianku. Semakin aku mengimpikanmu, maka akan semakin hancur diri ini. Hancur
karena ambisi yang besar dan tidak adanya kemampuan untuk mewujudkannya.
Biarlah aku menjadi sang pengelana di tengah rimba yang belum tentu seorang pun
dapat hidup di dalamnya. Sampai kapan diri ini berkelana, akupun juga tidak
pernah tahu. Hal yang pasti meninggalku bahagia, itu sudah mengurangi sebagian
dari bebanku.
Aku
bukanlah danau kesejukan bagi dirimu. Aku hanyalah padang pasir bagimu jika kau
ingin tahu siapa aku. Kaulah danau itu, bukan aku. Aku hanya angin yang membawa
uap air dari danaumu dan bukan dariku kesejukan itu ada. Aku hanya fatamorgana
kesejukan bagimu, sehingga jangan pernah berharap aku menerpamu untuk ke sekian
kalinya. Mungkin aku dapat menjadi sebuah danau tapi bukan danau untukmu
singgah wahai cahaya yang aku kagumi. Apapun yang terjadi, namamu tetap terukir
di dasar lerung hatiku, meski kau tidak akan pernah tahu.
No comments:
Post a Comment