Friday, July 19, 2013

SERIBU KAPAL DATANG DAN PERGI

                Hembusan angin pantai yang lembut, deruan ombak yang menenangkan sanubari, dentuman bunyi kapal yang silih berganti di pelabuhan ini. Pemandangan lalu lintas laut yang berlatar langit biru yang mempesonakan siapapun yang menatapnya. Pelabuhan yang tidak pernah sunyi, selalu ada yang hilir dan mudik seperti lalu lintas padat di perkotaan. Berbagai macam kapal ada di pelabuhan ini mulai dari kapal yang sederhana sampai kapal mewah. Semuanya terbungkus indah dengan pemandangan alam yang tidak seorang pun dapat menolaknya. Nahkoda kapal terdengar merayu para masyarakat domestik untuk pergi berlayar bersamanya dengan berbagai bujuk rayu. Namun yang aku lihat di sini tidak ada satupun kapal yang berlabuh dalam waktu yang cukup lama. Aku sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan mereka ingin segera berlayar ke tujuan mereka selanjutnya. Hanya satu yang terpikir dalam otakku ‘berarti pelabuhan ini bukanlah pelabuhan tujuan mereka’. Pulau ini sungguh indah dan mempesonakan hati bagi orang yang tinggal di dalamnya. Namun semua potensi ini tidak dapat dilihat oleh orang yang tidak punya ketulusan hati.
                Kapal yang berlayar ke pelabuhan ini bukanlah sembarang kapal, karena sebelum mereka menemukan pelabuhan ini mereka telah melewati banyak badai di lautan lepas. Pulau ini memang sunyi dan menawarkan ketenangan dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat perkotaan. Mungkin karena jauh dari kehidupan perkotaanlah yang menyebabkan sampai saat ini tidak ada satupun kapal yang sanggup berlabuh dalam waktu yang lama di pulau ini. Pulau yang masih asri diwarnai dengan warna – warni alam yang tidak pernah didapatkan di pulau lain. Ketika aku tenggokkan kepalaku ke samping ternyata banyak kapal yang mencoba bertahan lama di pulau ini, berarti asumsiku salah. Akan tetapi, tidak satupun kapal yang mampu bertahan. Banyak tantangan yang akan mereka hadapi di pulau ini, mulai dari bencana alam sampai stress pribadi yang akan menghantui mereka. Alasan mereka tidak dapat bertahan adalah tidak tahannya mereka terhadap bencana alam yang tidak kunjung usai dan belum adanya kepastian bahwa kehidupan mereka akan sejahtera di sini.

                Ketidakpastianlah penyebab utama keputusasaan kapal-kapal itu. Padahal jika mereka mau bersabar mereka akan dapatkan hal yang lebih dari apa yang pernah mereka inginkan selama ini. Akan tetapi, dari lubuk sanubari aku pun juga tidak akan berdiam diri untuk selalu menjaga pulau yang elok ini dari para pendatang yang akan merusak. Bukankah hidup itu selalu berisi ketidakpastiaan kecuali kematian. Seharusnya mereka berpikir bagaiman cara melestarikan dan dapat hidup di pulau yang indah ini. Mungkin keegoaanlah yang membuat mereka menyerah. Ketika aku tundukkan kepalaku mengahadap pasir di pantai ini, aku berpikir hikmah dari kejadian yang telah aku amati. Semakin banyak kapal yang berlabuh di pelabuhan ini maka semakin banyak jejak yang ditinggalkan dan itu dapat memperkaya sejarah pelabuhan ini. Semakin banyak kapal yang meninggalkan pelabuhan berarti hanya kapal yang terbaik dari yang terbaiklah yang bertahan. Aku akan jaga pulau yang elok ini dengan sepenuh hati sampai datang sebuah kapal yang mampu berlabuh dan lulus segala ujian hidup yang ada di pulau ini. Tidak akan pernah pelabuhan ini sunyi, tetapi ketidakpastian selalu ada sampai saat yang tepat untuk memberikan suatu kepastian. Aku pun juga tidak tahu sampai kapan status ketidakpastiaan ini ada. Ombak yang selalu memberikan melodi indah pun juga tidak tahu kapan waktunya. Biarkan berjalannnya sang surya yang menjawabnya dan biarkan semua misteri Tuhan ini selalu tersimpan sampai saatnya Tuhan mengizinkan semuanya terbuka. Karena penantian akan misteri-Nya bukanlah suatu kesia-siaan belaka. 

2 comments:

  1. Pulau elok itu seperti hati ya.. selalu ada kapal yang singgah dan pergi hehe bagiku bagus cinta, bila kamu suka menulis, jangan pernah berhenti menulis.. ;)

    ReplyDelete