Saturday, July 5, 2014

SANG PENERBIT SENYUMAN

            Impian merupakan sebagian dari jiwa yang mengerakkan raga untuk tetap memiliki tunas di setiap mentari yang muncul. Impian seperti mawar yang indah dan dan harumnya menambah keindahan melodi kehidupan. Namun mawar punya duri yang akan melukai siapa pun yang mencoba untuk mendekatinya. Selalu ada sayatan untuk meraih keindahannya. Akan tetapi, semua terasa seperti fatamorgana dan morfin bagi jiwa ini. Semua berlalu begitu saja, tanpa adanya halangan dan sayatan yang berarti. Itu semua terjadi saat munculnya sosok istimewa di balik udara dingin yang lingkungan yang berkabut.
            Kehidupan selalu menguji kekeuatan insan untuk tetap bertahan di atas kokohnya prinsip dan komitmen kehidupan. Keseriusan menjalani kehidupan membuat seluruh syaraf lupa akan menikmati seluruh proses dalam kehidupan. Semua dilakukan untuk meraih impian yang terang di masa yang akan datang. Tidak jarang dalam proses menuju impian banyak terjadi isakan tangis dan kesedihan yang menggoreskan warna gelap dalam kehidupan.
            Kuas pelukis senyuman mampu menghapus warna gelap yang tergambar di atas canvass kehidupan. Sang pelukis selalu tahu cara terbaik untuk memperindah semua yang hancur dan selalu tahu kombinasi warna yang mampu mempesona sukma. Akan tetapi, goresan kuas sang pelukis terhenti ketika awan hitam mulai muncul di cakrawala. Awan yang mengantarkan pada masa lebih dari satu dasawarsa lalu. Masa dimana jiwa menemukan ketulusan akan kasih sayang tidak pernah sampai pada muara yang tepat.
            Awan semakin menghitam dan hujan deras menguyur permukaan bumi. Melodi kenangan mulai berputar dan menambah kesunyian hujan yang turun. Semua terdiam dan terhenti untuk sosok jiwa yang tulus lebih dari saru dasawarsa lalu. Dia menyembunyikan kunci rahasia yang tida pernah membuka kotak rahasia kehidupaannya demi menjaga kesucian jiwa dan ketenangan batin ini. Tetapi kunci itu diketahui setelah kepergiannya, kepergian yang tidak seorang pun tahu dan kepergian yang menyisakan tanda tanya besar serta kepergian yang tidak pernah bisa diminta untuk kembali.
            Penerbit senyuman yang muncul seiring mentari yang bersinar mengingatkan bulan yang bernah bersinar terang di tengah kegelapan malam. Mentari yang selalu goreskan kerutan kecil di pipi dan mata yang bersinar menatap relief kehidupan. Sosok masa lalu yang telah pergi dan tidak akan pernah kembali telah ajarkanku untuk menyayangi secara tulus tanpa mengharap suatu balasan dan mengajarkanku untuk tegar dalam kehidupan meskipun tidak akan pernah bersamanya. Dia berikan semuanya demi diriku, begitupun juga mentari baru ini. Mentari yang berjiwa sama dengannya. Jiwa yang tidak pernah aku sanggup untuk membalas seluruh pengorbananan yang dilakukannya.
            Dia seperti hidup dalam jiwa sang mentari. Kerutan kecil di sisi pipi yang tidak pernah terlihat sejak kepergiannya kini mulai mengembang kembali seiring mentari yang menyinari kehidupan. Janjiku untukmu wahai jiwa suci yang tidak pernah bisa bersamaku akan selalu terkenang. Tetapi kehadirannya membuatku mengingat sosokmu di masa lalu. Mungkin ini merupakan jawaban-Nya atas ketulusan yang pernah engkau berikan padaku. Ketulusan disepanjang hidupmu. Jikalau sang mentari mampu bersinar lebih lama darimu maka aku akan menjadikannya bersamaku dan selalu ada bayangmu di setiap kehadirannya. Karena ketulusanmu membuatku tidak mampu melupakan semua yang telah terjadi walaupun itu sudah lebih dari satu dasawarsa lalu. Kalimat yang perlu engkau tahu jiwa suciku “hanya engkaulah yang mampu membangunkanku dengan kesungguhan dan ketulusanmu”, sungguh beruntung aku bertemu dengan jiwa suci di masa lalu dan mentari di masa sekarang, walaupun aku tidak pernah tahu akhir dari cerita ketulusan yang engkau ajarkanku untuk menjalani kehidupan.


No comments:

Post a Comment