Tuesday, July 1, 2014

SECERCAH WARNA BIRU
            Hujan yang turun di senja hari membuat masa itu terulang kembali, masa dimana terlihat cahaya biru yang dapat menyejukkan sukma yang memandang. Cahaya yang mampu membawa raga ini menuju kesejukan dan ketenangan jiwa yang sesungguhnya. Hujan semakin deras dan semakin membawa diri ini larut dalam masa lalu. Gemerlap cahaya halilintar yang terlihat dari tepian bukit yang hijau menyadarkan bayangan cahaya biru yang pernah menggoreskan warna dalam hidup ini telah berubah menjadi warna gelap. Warna biru yang indah laksana warna yang terlihat di permukaan samudra yang terhampar luas menyelimuti bumi ini telah memudah seiring dengan berjalannya sang waktu. Semua telah hilang dan hanya menyisakan puing-puing masa lalu yang seudah tidak dapat dikembalikan lagi seperti dahulu.
            Waktu yang telah bergulir telah menepis tabir yang selama ini tertutup rapat. Tabir yang tidak pernah terbuka sebagai konsumsi publik. Semua telah jelas dan semua hanyalah sebatas etalase rapat saat ini. Kejadian masa lampau telah terkunci dalam kotak yang telah terkubur jauh di dasar jurang dan tidak akan pernah terkuak untuk kedua kalinya dalam perjalanan kehidupan ini. Kotak yang selama tidak ada seorang pun yang tahu. Namun, kotak itu juga akan tidak pernah akan diketahui oleh siapa pun baik sekarang maupun masa yang akan datang.
            Kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan mengantarkan akan pilihan yang muncul dari setiap kejadian di muka bumi. Kebijaksanaan yang disertai dengan kedewasaan menambah keseimbangan dalam menjalani kehidupan yang dinamis. Kehidupan yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun di dunia ini, kehidupan yang tidak pernah ada yang tahu kapan akan berakhir. Alasan itu yang membuat warna biru yang pernah tergoreskan menjadi berubah menjadi warna gelap. Warna yang menyelimuti berbagai misteri yang akan hilang seiring dengan berjalannya waktu dan berputarnya matahari yang menyinari hari-hari yang berganti.
            Tabir yang terbuka mengisaratkan bahwa warna biru yang terlihat hanyalah fatamorgana dan bukanlah warna hakiki yang kekal, serta bukanlah warna yang secara harfiah dapat menyejukkan hati yang memandangnya untuk seluruh waktu yang bergulir. Sandiwara yang telah terungkap menyanyat sukma yang perna dibuat kagum oleh warna indah itu. Akan tetapi, semua sekarang hanyalah puing-puing masa lalu yang tidak dapat dikembalikan lagi.
            Kehidupan yang tidak dijalani dengan kebijaksanaan dan kedewasaan hanyalah menghasilkan kehidupan yang tidak mengantarkan ke kehidupan yang sebenarnya harus dijalani oleh setiap insan. Manusia diciptakan berpasangan, dan setiap pasangan dicipakan secara selaras dan serasi serta memiliki tingkat kepantasan satu sama lain. Apabila pasangan yang dipilih dan ditetapkan tidak sesuai hanyalah menyisakan penyesalan yang mungkin tidak akan pernah berujung. Hal itu pula yang menyebabkan pudarnya warna biru yang pernah tersirat dalam kehidupan putih. Kehidupan putih yang datar, tenang, dan tidak bergelombang. Warna biru dikala itu menciptakan gelombang baru kehidupan dan menciptakan lubang hitam dalam kertas putih. Kertas yang masih bersih dan tidak pernah tergoreskan oleh apapun itu.
            Ketidakseimbangan membuat perahu sampan yang diarungi bergejolak di tengah samudra yang luas dan menyelimuti permukaan bumi. Perahu sampan yang baik adalah perahu yang memiliki nahkoda dan awak kapal yang berkerja secara serentak dan mampu menciptakan keseimbangan dalam mengarungi lautan yang luas. Tetapi, perahu ini telah diterjang oleh gelombang dan tidak dapat dikendalikan oleh nahkoda serta awak kapal dengan baik, sehingga semuanya hancur tersapu ganasnya ombak. Semua yang tersisa hanyalah puing-puing bangkai kapal yang telah terterpa oleh ganasnya ombak di lautan.


No comments:

Post a Comment