SECERCAH
WARNA BIRU
Hujan yang turun di senja hari
membuat masa itu terulang kembali, masa dimana terlihat cahaya biru yang dapat
menyejukkan sukma yang memandang. Cahaya yang mampu membawa raga ini menuju
kesejukan dan ketenangan jiwa yang sesungguhnya. Hujan semakin deras dan
semakin membawa diri ini larut dalam masa lalu. Gemerlap cahaya halilintar yang
terlihat dari tepian bukit yang hijau menyadarkan bayangan cahaya biru yang
pernah menggoreskan warna dalam hidup ini telah berubah menjadi warna gelap.
Warna biru yang indah laksana warna yang terlihat di permukaan samudra yang
terhampar luas menyelimuti bumi ini telah memudah seiring dengan berjalannya
sang waktu. Semua telah hilang dan hanya menyisakan puing-puing masa lalu yang
seudah tidak dapat dikembalikan lagi seperti dahulu.
Waktu yang telah bergulir telah
menepis tabir yang selama ini tertutup rapat. Tabir yang tidak pernah terbuka
sebagai konsumsi publik. Semua telah jelas dan semua hanyalah sebatas etalase
rapat saat ini. Kejadian masa lampau telah terkunci dalam kotak yang telah
terkubur jauh di dasar jurang dan tidak akan pernah terkuak untuk kedua kalinya
dalam perjalanan kehidupan ini. Kotak yang selama tidak ada seorang pun yang
tahu. Namun, kotak itu juga akan tidak pernah akan diketahui oleh siapa pun
baik sekarang maupun masa yang akan datang.
Kebijaksanaan dalam menjalani
kehidupan mengantarkan akan pilihan yang muncul dari setiap kejadian di muka
bumi. Kebijaksanaan yang disertai dengan kedewasaan menambah keseimbangan dalam
menjalani kehidupan yang dinamis. Kehidupan yang tidak pernah diketahui oleh
siapa pun di dunia ini, kehidupan yang tidak pernah ada yang tahu kapan akan
berakhir. Alasan itu yang membuat warna biru yang pernah tergoreskan menjadi
berubah menjadi warna gelap. Warna yang menyelimuti berbagai misteri yang akan
hilang seiring dengan berjalannya waktu dan berputarnya matahari yang menyinari
hari-hari yang berganti.
Tabir yang terbuka mengisaratkan
bahwa warna biru yang terlihat hanyalah fatamorgana dan bukanlah warna hakiki
yang kekal, serta bukanlah warna yang secara harfiah dapat menyejukkan hati
yang memandangnya untuk seluruh waktu yang bergulir. Sandiwara yang telah
terungkap menyanyat sukma yang perna dibuat kagum oleh warna indah itu. Akan
tetapi, semua sekarang hanyalah puing-puing masa lalu yang tidak dapat
dikembalikan lagi.
Kehidupan yang tidak dijalani dengan
kebijaksanaan dan kedewasaan hanyalah menghasilkan kehidupan yang tidak
mengantarkan ke kehidupan yang sebenarnya harus dijalani oleh setiap insan. Manusia
diciptakan berpasangan, dan setiap pasangan dicipakan secara selaras dan serasi
serta memiliki tingkat kepantasan satu sama lain. Apabila pasangan yang dipilih
dan ditetapkan tidak sesuai hanyalah menyisakan penyesalan yang mungkin tidak
akan pernah berujung. Hal itu pula yang menyebabkan pudarnya warna biru yang
pernah tersirat dalam kehidupan putih. Kehidupan putih yang datar, tenang, dan
tidak bergelombang. Warna biru dikala itu menciptakan gelombang baru kehidupan
dan menciptakan lubang hitam dalam kertas putih. Kertas yang masih bersih dan
tidak pernah tergoreskan oleh apapun itu.
Ketidakseimbangan membuat perahu
sampan yang diarungi bergejolak di tengah samudra yang luas dan menyelimuti
permukaan bumi. Perahu sampan yang baik adalah perahu yang memiliki nahkoda dan
awak kapal yang berkerja secara serentak dan mampu menciptakan keseimbangan
dalam mengarungi lautan yang luas. Tetapi, perahu ini telah diterjang oleh
gelombang dan tidak dapat dikendalikan oleh nahkoda serta awak kapal dengan
baik, sehingga semuanya hancur tersapu ganasnya ombak. Semua yang tersisa
hanyalah puing-puing bangkai kapal yang telah terterpa oleh ganasnya ombak di
lautan.
No comments:
Post a Comment