Impian merupakan sebagian dari jiwa
yang mengerakkan raga untuk tetap memiliki tunas di setiap mentari yang muncul.
Impian seperti mawar yang indah dan dan harumnya menambah keindahan melodi
kehidupan. Namun mawar punya duri yang akan melukai siapa pun yang mencoba
untuk mendekatinya. Selalu ada sayatan untuk meraih keindahannya. Akan tetapi,
semua terasa seperti fatamorgana dan morfin bagi jiwa ini. Semua berlalu begitu
saja, tanpa adanya halangan dan sayatan yang berarti. Itu semua terjadi saat
munculnya sosok istimewa di balik udara dingin yang lingkungan yang berkabut.
Kehidupan selalu menguji kekeuatan
insan untuk tetap bertahan di atas kokohnya prinsip dan komitmen kehidupan.
Keseriusan menjalani kehidupan membuat seluruh syaraf lupa akan menikmati seluruh
proses dalam kehidupan. Semua dilakukan untuk meraih impian yang terang di masa
yang akan datang. Tidak jarang dalam proses menuju impian banyak terjadi isakan
tangis dan kesedihan yang menggoreskan warna gelap dalam kehidupan.
Kuas pelukis senyuman mampu
menghapus warna gelap yang tergambar di atas canvass kehidupan. Sang pelukis
selalu tahu cara terbaik untuk memperindah semua yang hancur dan selalu tahu
kombinasi warna yang mampu mempesona sukma. Akan tetapi, goresan kuas sang
pelukis terhenti ketika awan hitam mulai muncul di cakrawala. Awan yang
mengantarkan pada masa lebih dari satu dasawarsa lalu. Masa dimana jiwa
menemukan ketulusan akan kasih sayang tidak pernah sampai pada muara yang
tepat.
Awan semakin menghitam dan hujan
deras menguyur permukaan bumi. Melodi kenangan mulai berputar dan menambah
kesunyian hujan yang turun. Semua terdiam dan terhenti untuk sosok jiwa yang
tulus lebih dari saru dasawarsa lalu. Dia menyembunyikan kunci rahasia yang
tida pernah membuka kotak rahasia kehidupaannya demi menjaga kesucian jiwa dan
ketenangan batin ini. Tetapi kunci itu diketahui setelah kepergiannya,
kepergian yang tidak seorang pun tahu dan kepergian yang menyisakan tanda tanya
besar serta kepergian yang tidak pernah bisa diminta untuk kembali.
Penerbit senyuman yang muncul
seiring mentari yang bersinar mengingatkan bulan yang bernah bersinar terang di
tengah kegelapan malam. Mentari yang selalu goreskan kerutan kecil di pipi dan
mata yang bersinar menatap relief kehidupan. Sosok masa lalu yang telah pergi
dan tidak akan pernah kembali telah ajarkanku untuk menyayangi secara tulus
tanpa mengharap suatu balasan dan mengajarkanku untuk tegar dalam kehidupan
meskipun tidak akan pernah bersamanya. Dia berikan semuanya demi diriku,
begitupun juga mentari baru ini. Mentari yang berjiwa sama dengannya. Jiwa yang
tidak pernah aku sanggup untuk membalas seluruh pengorbananan yang
dilakukannya.
Dia seperti hidup dalam jiwa sang
mentari. Kerutan kecil di sisi pipi yang tidak pernah terlihat sejak
kepergiannya kini mulai mengembang kembali seiring mentari yang menyinari
kehidupan. Janjiku untukmu wahai jiwa suci yang tidak pernah bisa bersamaku
akan selalu terkenang. Tetapi kehadirannya membuatku mengingat sosokmu di masa
lalu. Mungkin ini merupakan jawaban-Nya atas ketulusan yang pernah engkau
berikan padaku. Ketulusan disepanjang hidupmu. Jikalau sang mentari mampu
bersinar lebih lama darimu maka aku akan menjadikannya bersamaku dan selalu ada
bayangmu di setiap kehadirannya. Karena ketulusanmu membuatku tidak mampu
melupakan semua yang telah terjadi walaupun itu sudah lebih dari satu dasawarsa
lalu. Kalimat yang perlu engkau tahu jiwa suciku “hanya engkaulah yang mampu
membangunkanku dengan kesungguhan dan ketulusanmu”, sungguh beruntung aku
bertemu dengan jiwa suci di masa lalu dan mentari di masa sekarang, walaupun
aku tidak pernah tahu akhir dari cerita ketulusan yang engkau ajarkanku untuk
menjalani kehidupan.
